WELCOME to Irma's Story !!!

  • You are Visitor number :

My Photo

TRACE


Irma's chat corner

  • Ngobrol yuuukkkk!!!!!
    Name :
    Web URL :
    Message :
    :) :( :D :p :(( :)) :x
Powered by Friendster Blogs
Member since 07/2005

Tuesday, 29 July 2008

PAPA's FUNERAL

HARI SELASA, 15 JULI 2008 PUKUL 21.10 WIB TELAH BERPULANG KE RAHMATULLAH....PAPA KAMI TERSAYANG....H. AHMAD SUARDI SAUL....DI BANDUNG....

Jam 1 malam dengan dilepas para tetangga, jenazah papa dibawah dari rumah kami di Bandung ke rumah Depok. Karena memang papa akan dimakamkan di Depok, soalnya jauh2 hari papa & mama sudah menyiapkan sepetak kavling di dekat tanah wakaf milik komplek di Depok. Di daerah lemperes (KSU - jalan Pemda yg menuju Bogor)

Mama & beberapa sepupu gw menemani papa di ambulance. Perjalanan lancar, walaupun jam segitu Cipularang penuh dengan trailer & truk. Karena memakai jasa Vorijder (eh bener gak spellingnya?) dari PM.

Pukul 3.30 rombongan tiba di Depok. Gw langsung lemes tak bertenaga, aahhh.....ini bukan mimpi...hikz... menyambut kedatangan rombongan. Kami baringkan papa ditengah rumah. Gw buka wajahnya, tersenyum....damai sekali. Mukanya bersih seperti bercahaya....padahal belum dimandikan. Kata mama, mata & mulut papa menutup sendiri. Sesaat setelah ucapan terakhirnya..."Allah...." Allhamdulillah.......(semua tamu yg datang melayat papa dan menatap wajahnya pun selalu berkata, "Subhanallah......Bapak tersenyum")

Tak lama setelah tibanya rombongan, para tetua langsung berembuk, kapan mau dimakamkan. Banyak yg usul sebelum Dzuhur....dan itu langsung membuat gw mendelik. Dengan terisak-isak, gw menjelaskan bahwa Dini on the way pulang dan minta ditunggu. Beberapa orang langsung bilang "Nggak boleh begitu...bla..bla...."

Dan gw pun bertambah bete. Dengan dalih bahwa kedatangan Dini masih memungkinkan untuk ditunggu, karena masih dibawah 24 jam. Plus cerita bahwa Dini memohon dengan sangat bahwa dia minta ditunggu, akhirnya mama, Tedi & K'Vina yg tadinya pasrah dengan usul2 mereka itu mau mengikuti permohonan gw.

"Papa pasti mau ketemu Dini, lagian kalau memang mau dimakamkan tanpa Dini. Dini harus berikrar bahwa dia ikhlas." Tambah gw 'sedikit' jutek. Gerombolan pemberi usul pun langsung terdiam. Akhirnya mereka pun menyiapkan plan B, yaitu pemakaman di malam hari. Mengkoordinir pemasangan lampu2 yg bakal diperlukan.

Kenapa gw begitu ngotot? Karena gw tahu pasti papa juga menginginkan demikian. Suatu hari on the way ke kantor papa pernah bilang "Mudah2an Dini gak jadi kuliah di Jepang, lama sekali (3 tahun). Mudah2an dia diterima di australi, enak deket. Bisa gampang pulang, kalo papa kenapa - kenapa" Saat itu perasaan gw dah gak enak. Percakapan itu berlangsung tahun lalu, sebelum papa jatuh sakit. Percakapan ini gw simpan sendiri, gak pernah gw ceritakan ke yang lain.

Jam 7 pagi, petugas yg akan memandikan papa sudah tiba. Dan langsung pengen beraksi. "Nantiii dulu....." teriak gw. Gw khawatir kalo buru2 dimandiin, nanti pasti ada desakan buat buru2 dimakamin. Memberitahu papa meninggal ke Dini aja gw gak sanggup. Apalagi melihat wajahnya yang bakalan sedih, kecewa bahkan (mungkin) shock kalo pas dia tiba di rumah dan papa sudah dimakamkan. Dengan berdalih bahwa sepupu2 gw yg cowok belum pada datang (padahal sudah ada beberapa orang yang datang), gw bilang tunggu sebentar lagi. Mama pun setuju.

Jam 11 akhirnya papa pun dimandikan, oleh 2 orang petugas plus kami bertiga (Gw, K'Vina & Tedi), sepupu gw Dang Aldi, Hendri, Andi dan Ogie. Sepupu2 gw yg cewek menangis karena dilarang memandikan. Tapi nanti sebelum wudhu, diperbolehkan memberi 'siraman' terakhir. Mereka pun duduk menunggu di ruang tengah, menemani mama yg tidak sanggup menyaksikan dan duduk menangis membelakangi kami. Walaupun akhirnya mama juga ikut menyiram di saat2 terakhir.....hikz

Sekitar jam 2 lewat Dini menelpon, dia sudah mendarat di Denpasar....Alhamdulillah. Sekarang tinggal deg-degan menanti penerbangan ke Jakarta. Sementara saudara2 yg dari luar kota dan naik pesawat, semuanya mengalami delayed. Yg dari Bengkulu delayed 2 jam, yg dari Kalimantan delayed 3 jam. Tapi semua akhirnya tetap sempat ketemu papa. Karena kami menunggu Dini. Tapi yang dari Palembang malah sama sekali gak bisa berangkat. Karena gak dapat tiket. Seharian mereka nongkrong di airport menunggu ada yg membatalkan keberangkatannya. Tapi nihil. Salah satu sepupu papa akhirnya menyerah...dan berangkat dengan bus (dengan resiko gak ketemu lagi sama papa).

Sambil menunggu kedatangan Dini, gw selalu duduk di samping papa. Membuka wajah papa jika ada tamu, membaca yassin dan kadang2 memegang tangannya (yg sudah dibungkus kafan) seraya berbisik "Sabar ya Pa.....maaf bukannya ngelama-lamain...tapi Dini pasti pengen banget ketemu papa. Dan papa juga mau kan ketemu Dini" Papa memang tidak bisa lagi menjawab, tapi feeling gw beliau setuju. Beberapa sahabat2 gw yg datang menganjurkan buat tidur dulu barang sebentar (karena memegang kening gw yg katanya agak panas), gw tolak dengan halus. Kapan lagi bisa berdekatan dengan papa? K'vina juga melakukan hal yg sama, menemani papa. Sementara Tedi bolak balik menyambut tamu di depan. Karena dia yang lebih banyak mengenal teman2 papa.

Jam 19.30 Dini tiba, wajahnya pucat, sedih tapi tampak sedikit lega. Lega akhirnya bisa tiba di rumah tepat waktu dan masih bisa bertemu papa. Dia pun menangis, memeluk papa dan berkata "Maafin Dini Pa....Dini lama datangnya...maafin Dini pa...."

"Dini gak salah nak...Dini gak salah. Papa pasti senang Dini pulang" kata mama

Kami pun mencium papa buat terakhir kalinya sebelum kafannya ditutup. Dan setelah itu papa dibawa ke mesjid untuk dishalatkan dan kemudian dibawa ke pemakaman.

Di pemakaman sudah terang benderang (sebelumnya gw udah ngebayangin pake petromak) ternyata penerangannya menggunakan lampu neon yg disiapkan oleh Oom Karnadi salah seorang mantan pegawai papa....Alhamdulillah. Upacara pemakaman berlangsung lancar.....Tedi, Rommel, Dang Aldi & Olga yang mengantarkan papa ke liang lahat. Dan Tedi pun ber-adzan dengan suara terbata, melepas kepergian papa.

SELAMAT JALAN PAPA SAYANG......SAMPAI BERJUMPA LAGI

                            

Friday, 25 May 2007

AIMEE & DINDA

Sekali-kali mau cerita tentang ponakan2 gw ah...boleh kan?

Ponakan gw dari sepupu-sepupu, banyaaaak....dari yang udah beranjak ABG dan mulai merayu-rayu gw buat nganterin mereka ajep-ajep...hihihi...sampai yang imut dan baru lahir.

Dsc03099_1

Dsc03101_1

Aimee & Dinda adalah anak dari adik sepupu gw Para. Karena anak dari yang lebih muda dari gw, mestinya mereka manggil gw dengan sebutan uwak atau mak nga (bahasa palembang), tapi males ah dipanggil kayak gitu. Kesannya kok tuwir sekali....hihihi (kurang bisa menerima kenyataan kalo udah beranjak tuwir). Akhirnya gw bersabda ke Para, "Anak2 elo manggil gw bunda aja ya! gw nggak sudi dipanggil uwak atawa mak nga!!" Dan Para pun setuju-setuju aja. As long as I'm happy....hahaha (kesannya kok diktator banget ya!) Lagian Para dipanggil mama sama mereka, jadi tidak kontradiktif.

Sekarang setiap gw main ke rumah Para, dua makhluk mungil itu pasti langsung berlari memeluk gw di depan pintu sambil berteriak nyaring,"Bundaaaa"...*terharu* dan langsung memberikan laporan pandangan mata. Tentang apa pun.....mulai dari laporan tentang si Ipah (mbaknya), tante gw (neneknya) atau berebut oleh2 yang gw bawa (padahal lebih sering gak bawa oleh2...hihihi)

Suatu hari, Aimee (yang gede) nelpon gw dikantor

"Halo bunda, ini aimee..." ujarnya nyaring.

"Iya aimee, ini bunda.." kata gw gak kalah nyaringnya.

"Bunda kok nggak ke sini sih. Nenek bunda (maksudnya nyokap gw) lagi ada di rumah aimee nih"

"Bunda lagi kerja, sekarang masih di kantor" jawab gw.

"Bunda ke kantor ngapain sih?" tanyanya mau tahu.

Eemmm...*berpikir keras* jawaban apa ya yang cocok? Akhirnya gw jawab begini,"Ke kantor kan buat nyari uang"

"Buat apa bunda uangnya?" aduh..mau tahu aja deh! Gw bingung nih mau jawab apa lagi.

"Eemmm....bunda cari uang buat jalan2 & jajan" harus jujur kan sama anak kecil...hihihi

"Kalo mama Aimee, cari uang buat beli susu lho!" katanya. Hihihi...bisa aja si Para! Terus aimee berkicau lagi,"Kantor mama jauh, kalo kantor bunda deket ya?" (Aimee pernah main ke kantor gw, yang tentu saja deket banget dari rumahnya yang di kalibata)

"Iya sayang, dulu kan Aimee pernah ke kantor Bunda sama mama kan?"

"Ooo...iya, hehehe..." katanya. "Terus bunda kapan mau ke sini?"

Lhooo??? ternyata nyuruh gw ke sana toh? bisa aja pake basa basi, padahal baru 3 tahun lho umurnya!

"Eeemmm...nanti ya kalo bunda libur. Sekarang bunda mesti kerja lagi nih!" seru gw.

"Iya deh bunda....bye bunda!!"

"Bye..." ckckck....bisa aja tuh si aimee.

Adiknya Aimee, Dinda lain lagi! si cantik berambut keriting ini ngomongnya masih belum lancar...alias masih cadel. Dan bocah satu ini memang wong kito nian! Baru 2 tahun, tapi udah menjadi penggemar berat pempek.SETIAP HARI harus makan pempek. Walhasil, tante gw setiap hari harus menyiapkan pempek sebagai camilan buat Dinda. Secara dia gak mau kalo pempek yang beli di toko, HARUS BUATAN tante gw sendiri. Ckckck.....dan kalo pempek lagi habis pasti dia dengan bujuk rayu dan tampang innocentnya bilang,"Nek kok nggak bikin pempek cih? bikin dong nek..." sambil *blink-blink* mata memelasnya menatap ke mata tante gw. Dan nenek mana sih yang tega menolak cucunya kalo sudah begitu.

Ada cerita, pada suatu hari dinda lagi demam. Udah ke dokter dan minum obat tapi panasnya nggak mau turun juga. Akhirnya tante gw (yang memang suka pengobatan tradisional yaitu kerokan) mengambil inisiatif buat ngerokin dinda. Dan dikeroklah dinda (pelan2 lho) sambil di gendong.

"huhuhu....cakit nek...huhuhu" tangis dinda sesengukan. Terus nangis, dan pas tante gw (yg ngegendong) mendekati meja makan, tangis dinda tiba2 berhenti dan dinda pun berucap "WOW....PEMPEK!" setelah dia melihat sepiring besar pempek terhidang di atas meja makan.

Gubraaakkss.........semua yang ada diruangan itu pun terpingkal-pingkal.

Friday, 27 April 2007

PULANG KAMPUNG (eps: jalan-jalan)

Jam setengah tiga kita udah bersiap mau jalan-jalan. Mumpung ada kijang kapsul lagi nganggur...hihihi si empunya (Oom gw) lagi tidur. Kita pun pamitan, titip salam buat Oom Mursito yg lagi tidur. Maka rombongan sirkus pun siap melaksanakan tour. Rombongan terdiri dari gw, Nyokap, K'Vina, Tedi&Lonna, Dini, Oom&tante gw, K'Ika (sepupu gw), Ade, Olin, Axel (ponakan gw yang big size) hehehe....12 orang bo! tapi bukan ukuran biasa....alias gede2. So...empet-empetanlah kami di mobil. Bahkan gw harus ikhlas duduk 'gaya angkot' di belakang. Secara kalo gw duduk ditengah, makan tempat...hiks.

Pertama kami menuju rumah umak di Lemabang. Mau sowan sama tetangga sambil bagi2 buku yassin 40 hari meninggalnya Umak. Sepanjang jalan langit sudah mendung.....jreng...jreng...jreng...kita mulai deg-deg plas. Bener aja baru nyampe di rumah Umak, hujan turun dengan derasnya. Akhirnya, nyokap, Dini, plus Oom & tante gw aja yang turun dari mobil. Kita2 nunggu aja di dalem mobil...sambil memandangi langit....aduh....langitnya gelap banget. Alamat awet nih hujannya. Melayang sudah angan2 buat wisata bahari menyusuri sungai musi (biar merasa kayak di thailand).....hiks...hiks... Akhirnya setelah acara sowan tersebut, kita jalan aja (ditengah hujan deras) mengitari kota Palembang.

Dsc03450_1 

Dan karena gw sudah berteriak-teriak kelaparan (ya iya lah, wong tadi gak makan siang), akhirnya kita mampir di restoran martabak tambi yang di deket mesjid agung. Wah....susah turunnya mesti dipayungin satu2, secara ujannya gede banget. Akhirnya dengan baju sedikit 'demek' kita pun berhasil makan di resto tersebut....nyam...nyam....enak banget!

Dsc03444

walaupun di jakarta udah banyak jualan martabak ini, tetap aja lain rasanya kalo makan langsung di Palembang. Karena masih laper gw minta tambah satu porsi lagi....sharing siy sama K'Vina. Tapi begitu pesanan tambahan itu muncul, malah langsung di kasih ke Axel sama pelayannya.....secara dia yang badannya paling gede. Kontan aja, Axel cemberut....maap ya sayang.....tante yang rakus kok kamu yang dituduh....hihihi.

Abis makan kita teruskan berjalan-jalan, hujan masih deras banget. Bikin bete!! Akhirnya kita keliling melewati jembatan Ampera nyebrang ke arah Jaka Baring, itu lho mau ngeliat stadion PON kemaren. Stadionnya bagus, sayang gak bisa foto2. Akhirnya kita memutar arah menuju ke Plaza Kuto Besak. Waooo...disana view jembatan amperanya bagus banget. Kayak Golden gate...Baru nih daerah di depan benteng kuto besak itu dibikin temnpat kongkow2. jaman dulu mah itu daerah becek. Pengen foto, tapi ujan gede banget. Akhirnya, dengan semangat narsis yang menggelora gw, Dini & Lonna nekat pake payung minta di foto. Fotografernya (tedi) moto pake kamera baru (yg ada lensa telenya) dari dalam mobil. Hasilnya...cukup mengecewakan, secara jarak yg terbentang antara kami & fotografernya membuat kami tidak bisa mendengar aba2 dengan jelas. Alhasil ekspresi andalan gw kagak keluar...hehehe

Dsc00132

Karena sudah agak2 basah kuyup, kami memutuskan mengakhiri petualangan yang mengecewakan ini. Walaupun akhirnya nyokap nanya ke Olin. "Olin tahu gak  J.co ada di mall mana?"

"Tahu nek, ada di PIM" jawab Olin (cat: Palembang Indah Mall bukan Pondok Indah Mall ya...)

"Parkirnya di dalam gedung apa diluar Lin?" tanya gw

"Di dalam kok Bunda" jawabnya lagi (Olin memanggil gw dengan sebutan bunda)

"Ya udah ma, ke sana aja yuk!" kata kita semua.

Yaa....nggak jauh2 deh, ke mana pun kita pergi selalu end up di mall juga..hehehe. Kita pun ke sana, beli J.co 3 lusin eh...dapet hadiah 1 lusin plus setengah lusin lagi buat pengguna kartu mentari (gw kebetulan pake mentari)...lumayan....abis itu terus ke breadtalk beli kue tar buat bokap. Sekarang paling demen beli kue di sana secara 100% halal, bakery lain suka banyak yg pake rhum soalnya.

Sampai di mess, bokap udah duduk manis menunggu kita. Kita pun masuk, Lonna & Dini nunggu di mobil mempersiapkan kuenya. Gw masuk ke dalam, mengumpulkan  semua penghuni mess. Pas udah kumpul semua kita sama2 nyanyi "Happy birthday to you....." dan saat itu Dini & Lonna muncul sambil membawa kue tar

Dsc03459

...wah seru.....baru pertama kali ini pas ultah bokap, adik2nya semua bisa ngumpul. Karena semua tinggal berjauhan. Abis potong2 & makan2 kue, semua pun pada siap2 pada mau jalan2 lagi (gw itu maksudnya)....hehehe..soalnya ujannya udah berubah jadi gerimis. Tapi sebelumnya kita ngedrop para tetua ke rumah penganten, sedangkan kami para ciciripit menuju warung pempek. Tadinya mau makan pempek di candy, tapi kata Olga coba makan yang di simpang PHB deh...ya udah kita ke sana (terserah Pak Bandar soalnya...hehehe) ternyata lumayan enak kok pempeknya , lebih gede (daripada candy) dan harganya jauh lebih murah (yg kecil 1200 perak perbuah dan yang besar 5000 perak) ....nyam..nyam...slurp...slurp (suara gw menghirup cuko). Sekedar catatan, pempek di simpang PHB itu rata2 fresh, langsung dibikin disana, so bebas bahan pengawet. Jadi kalo mau beli buat dibawa ke Jakarta, mesti siap2 langsung dihabiskan karena daya tahannya cuma 2-3 hari walaupun dimasukkan ke kulkas.

Di sini sama sekali gak sempet foto2, secara semuanya sudah kalap melihat pempek.

Setelah kenyang makan pempek, mau ke mana lagi ya? akhirnya untuk memuaskan jiwa narsis kami, kita pun balik lagi ke benteng kuto besak buat foto2...gubrakzz....karena udah gak hujan lagi. Walaupun hasilnya kurang bagus juga, soalnya udah gelep...hiks

Dsc00176

Besok paginya, acara akad nikah berlangsung dengan lancar...Alhamdulillah....walaupun ijabnya sempet diulang gara2 Olga yang bertindak sebagai wali kurang menyebut kata kandung, jadi cuma bilang adik saya gitu...eh...penghulunya minta diulang....sutralah....Habis akad nikah ada acara makan2 kecil (menu sarapan pagi) yaitu burgo, celimpungan & laksan. Gw langsung nyobain semuanya. Dan rasanya...mak nyoos deh kayak kata Pak Bondan...hehehe. Bahkan mungkin itu burgo terlezat yang pernah gw makan....beneran lho! Padahal gw sering banget makan burgo. Katanya siy itu catering mesen dari orang yang biasa jualan di pasar cinde.

Jam 11 resepsi di Gedung pun dimulai....wuih....bertele-tele banget ya acaranya, gw rasanya sudah hampir pingsan kelaparan (walaupun tadi pagi makannya nambah *nyengir*)). Pake pidato dari si ini lah, si itu lah....belum lagi aneka tari-tarian....wah...recok banget dah! Akhirnya jam 12.30 pun dimulailah acara makan2...finally...terus biasa deh, ada acara hiburan...orgen tunggal gitu. Orang Palembang kan terkenal banci tampil, semua pada ngantri ingin sumbang suara....walaupun yg ada malah membuat kuping gw pengeng....Ehmmm...sepertinya "Ratu Karaoke" harus turun tangan nih...hehehe. (uchank pasti bangga kalo membaca ini) akhirnya gw pun nyanyi....lagu dangdut, jatuh bangunnya Kristina. Hahaha...lumayan sukses, bahkan Adin (adiknya Olga) mendengar MCnya bilang, "Aduh syukurlah ada juga yg suaranya bagus ikutan nyanyi, kalo idak malu nian aku. Abis dari tadi yg nyanyi suaranya idak keruan galo" Aduh...maap suara gw gak bagus kok Pak, tapi seperti kata Mbak Iie, yg penting pitch control kan? Kalo nadanya pas, suara yg sumbang juga bisa terdengar bagus. Untuk lagu ke dua gw menyanyikan lagu Rindu (yg selama ini gak gw dapetin di list NAV), sebenernya gw sempet minta lagu nidji atawa samson. Tapi pemain orgennya bilang dia gak bisa. Kata Eva (isterinya Olga),"Ya ndak bisa lah Kak. Wong itu Orkes Melayu kok disuruh bawain lagu anak band" bener juga ya?..hihihi

Habis pesta, beres2 kita pun buru2 mengejar pesawat. Takut ketinggalan, pesawatnya bakalan take off jam 6.20 sore sementara jam 5.15 kita masih di mess....wah kepak kepuk, udah nggak sempat lagi mau beli titipan pempeknya Lela, Yanti & Uchank (maap....next time ya say) Ngebut.....sampe di airpot jam 6 kurang seperempat. Lari2 menuju counter check in, masukin semua bagasi yg sudah beranak pinak (16 pieces) yg isinya sebagian besar kemplang & duku pemberian sodara2. Udah masuk semua barang, baru lihat jam terbangnya delay....wak...wak...alias jam 7.20 wah tahu begitu sih masih bisa beli pempek candy yg dijual di airport...ah...sutralah....males bawanya kalo nggak di bagasiin. Walaupun akhirnya pesawat baru benar2 take off jam 8 kurang....bye...bye..Palembang. Sampai jumpa lagi.....!!!

Tuesday, 24 April 2007

PULANG KAMPUNG

Week end kemaren (21-22 April) gw sekeluarga mudik ke Palembang. Dalam rangka sepupu gw Antin (Mirna Valentina nama lengkapnya) menikah. Paling males sebetulnya ke sana, secara gak ada obyek wisata yg menarik di Palembang. Mentok2nya kita berwisata boga….makanan di sana memang lemak nian (baca:enak sekali). Ada pempek (ya iyalah hai!!), martabak Har (tapi kami sekeluarga lebih suka menyebutnya martabak Tambi…hehehe), pindang meranjat, kue maksuba, engkak ketan, lapis legit (yg beda sama yg ada di sini), aneka ikan sungai yang cuma ada di sumatera selatan (buat yg doyan, gw gak terlalu doyan sama ikan air tawar) seperti ikan seluang, betok, belida, gaguk, sema dll. Dan dureeeennn…..kalo anda beruntung. (sayang musim duren kali ini telah berakhir, so gw tidak kebagian duren sama sekali...hiks. Padahal kata sepupu gw, pas lagi musim banget harganya bisa mencapai 10 rebu untuk tiga duren besar-besar….slurp)

Antin sepupu gw itu, Papa & Mamanya sudah lama meninggal dunia. Jadi bokap gw yang merupakan kakak kandung alm. Papanya Antin juga nyokap gw wajib hadir secara akan bertindak sebagai pengganti orang tua dan kebagian mejeng di pelaminan. Dan Tedi & Lonna yang newly wed, juga harus hadir di sana (sekalian buat Lonna supaya bisa kenalan dengan sodara2 di Palembang yg berhalangan hadir pas acara nikah mereka kemaren). Gw, Dini & kak Vina hadir sebagai tim penggembira seperti biasa…hehehe

BoNyok berangkat lebih dulu, hari Jum’at pagi. Dan rombongan sirkus (Gw, Tedi&Lonna, K’Vina, & Dini) berangkat hari sabtu paginya. Kita naik Sriwijaya Air flight pertama yang akan take off pukul 09.50 WIB. Dari subuh2 kita sudah ‘diteror’ by phone sama bokap yang was-was kita bakalan kesiangan (secara semuanya gabluk banget kalo tidur). Emang siy…..pada males bangun semua. Kecuali gw (ehm….) yg abis shalat subuh langsung sibuk packing oleh2 (oleh2nya harus masuk kulkas dulu malam sebelumnya, jadi baru bisa di packing pagi2). Walhasil gw yg terakhir mandi dan baru beres dandan jam 7.30.  Berhubung hari Sabtu, jalanan gak macet (Thank God!). Dan kita pun bisa nyampe di airport jam 08.50 WIB. Abis ngedrop kita, Tedi langsung pergi ke parkiran buat ngurus parkir nginep mobil. Yang lain, langsung masuk buat check in. Barang kita gak banyak cuma 1 koper medium size plus 1 kardus oleh2. That’s it….hihihi ngapain juga bawa barang banyak2, wong cuma 1 malam doang. Lagian sekoper kebaya plus songket udah dibawa sama nyokap hari sebelumnya.

Penerbangannya delayed 1 jam btw, (biasalah….). Dan tempat duduknya sempit banget! Jarak antar kursi pun deket, persis kayak di metro mini. Gw yg tingginya sedang2 saja (162 cm) hampir mentok dengkulnya dengan kursi depan (tipis banget, paling juga 1 cm lagi). Makanya sepanjang jalan Tedi (yang walaupun gak terlalu tinggi juga) terpaksa duduk tegak biar bisa muat kakinya. Tapi…ya terima nasib aja, bayar murah kok minta lebih. Walaupun begitu sempat juga kita berbuat jahil, pas baru masuk kabin K’Vina kepanasan (karena memang acnya belum nyala)  sempat dia kita godain, bahwa untuk pesawat ini (yg notabene low cost carrier) selain penerbangan bebas rokok juga ‘bebas’ AC. (dia pertama kali naik Sriwijaya air) K’vina langsung melotot ketakutan pas gw & Tedi bilang begitu….hahaha…. walaupun langsung sadar sendiri 2 menit kemudian (kalo seperti biasa acnya baru akan dingin setelah take off), dan langsung melakukan gerakan ala obelix….mengetok jidat pake telunjuk sambil bilang “tok…tok…tok” sambil mendelik ke arah gw & Tedi yang duduk bersebelahan dan lagi ketawa ngakak. Untunglah penerbangan Jakarta – Palembang hanya memakan waktu 50 menit. Jadi kami tidak terlalu lama bersempit-sempitan. Walaupun  pelayanan & penerbangannya lumayan oke, tapi gw kurang enjoy secara makanannyaeemmm…you know lah hihihi……

Jam 11.50 kita sudah tiba di Palembang, Lonna (yang baru pertama kalinya ke Palembang) langsung dengan semangat ngeliat pemandangan dari jendela. Yang lain siy cuek2 aja. Baru pada saat turun dari pesawat gw kaget, waahhhh….keren banget ya airportnya. Terakhir gw ke sana (th.2002 pas kawinan Para) airportnya tuh masih di Sultan mahmud Badarudin 1 (Talang Betutu) yang…..ehm….kunolah, di mana untuk naik & turun pesawat harus turun tangga dan jalan kaki lewat landasan (kadang2 kalo beruntung naik bis). Sekarang? Pake ‘belalai’ kaca yang lebih keren daripada yang di Soekarno-Hatta!! Airportnya pun walaupun gak terlalu besar, tetapi sangat layak deh buat predikat international airport.

Dsc00113_1 Dsc00352

Dsc03439_1

Sehabis ambil bagasi kami pun keluar, gw yang keluar pertama celingak celinguk mencari Olga, sepupu gw (kakaknya Antin) yang kebagian tugas menjemput rombongan sirkus kami. Mana ya…?? Yang ada gw malah dikerubungin sopir2 taxi yg menawarkan jasanya, yg walaupun udah gw tolak dengan gelengan kepala masih aja sibuk membuntuti. Sampai akhirnya ada yg meluk gw, tapi kok nggak ada orangnya?? Secara di deket gw gak ada orang selain sopir2 taxi itu, tapiii….oalah…pas gw ngeliat ke bawah (kesannya gw tinggi banget…hihihi) ternyata ada dua makhluk kecil yang memeluk gw…..Olin (ponakan gw, anaknya Olga) & Ade (sepupu gw yg paling bontot alias kecil). Saat itu barulah, sopir2 taksi yang sibuk membuntuti gw membubarkan diri. (sempat merasa jadi artis yg tengah dikerubuti infotainment!). Olga ternyata lagi ngambil mobil di parkiran, kedua bocah ini ditemani sama Kim (sepupu jauh gw dari Bengkulu), yang walaupun ikutan berdiri di sana kurang gw kenali gara2 pangling. Maap ya…..soalnya sudah hampir 12 tahun tak berjumpa.

Cuaca siang itu puanaaassss banget!!! Mana di mobil kita duduk empet2an. Mobil kijang Olga diisi oleh kami berlima dan 4 orang tim penjemput plus 1 koper & kardus. Tapi untunglah jarak airport – Dharmapala (rumah Olga) gak terlalu jauh cuma 30 menitan….(kalo bagi orang Jakarta yg biasa macet & jauh….segitu sih…keciiillll !!)

Setibanya di rumah Olga, kami disambut dengan gegap gempita (hiperbola mode on). Kita langsung kasih ucapan selamat Ultah ke Bokap (walaupun udah ngucapin sebelumnya by phone). Ya….bokap gw ultah tgl 21 April pas hari Kartini. Happy Birthday Pa!! Abis itu langsung deh tante2 gw berkicau menyuruh kita makan siang. Semua langsung pada makan, sedangkan gw? diem aja alias gak ikutan maem. Secara mau menyediakan space di perut buat makan jajanan khas palembang. Walaupun dipaksa-paksa, gw tetap bersikukuh tidak mau ikutan makan siang. Sampai akhirnya mereka menyerah sendiri….hihihi

Habis makan dan shalat, kita pun bergegas menuju mess Unsri tempat kita akan menginap. Tadinya mau nginep di hotel tapi niat itu ditentang sama semua orang, yang langsung menawarkan rumahnya buat di inapi. (kalo mau nginap di rumah penganten udah kagak muat, over load). Tapi secara halus kita bisa menolaknya, soalnya gak enak ngerepotin orang yang juga lagi pada sibuk. Biasanya kalo ke Palembang kita nginep di rumah umak, tetapi saat ini rumah tersebut sudah lama kosong & tidak terawat. So, daripada mesti kerja bakti dulu sebelum tidur, mendingan nginep di hotel atawa mess toh? Akhirnya setelah melewati perdebatan yg alot, kami pun diperbolehkan mem-booking mess Unsri (yg katanya fasilitasnya lumayan), beda2 tipis sama hotel. Secara letaknya yg sangat berdekatan dengan rumah penganten yg ada di kompleks Dosen Unsri. (walaupun ternyata biaya yg harus kami keluarkan untuk nginep di mess tersebut sama aja dengan harga di novotel Palembang kalo kita sekeluarga nginep di sana. Karena akhirnya banyak Oom & tante gw yg ikutan nimbrung nginep di mess)

Bersambung…..

Thursday, 29 March 2007

My little bro' wedding

Akad20couple

Hari Sabtu 24 Maret 2007, bertempat di mesjid Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah-Depdagri adik gw Tedi dan tunangannya Lonna melangsungkan akad nikah pukul 08.00 WIB. Pagi banget ya? kebayang dong jam berapa kita bangun buat dandan & siap2....jam 4 subuh gw udah harus mandi...brrr...dingin. Udah nggak pernah gw mandi subuh2 soalnya, duluuu...pas jaman SMA dan ikut Paskibra gw rajin banget bangun & mandi subuh2 (padahal dulu gw tinggal di Bandung yang dingiiin banget) buat latgab di balaikota....hihihi..tapi masa2 itu telah lama berlalu. Sekarang siy kalo nggak 'terpaksa' males banget mandi subuh2.

Acaranya Alhamdulillah lancar, syahdu, & hikmat. Sempat merinding juga pas ijab kabul, serasa banyak yang 'tidak kasat mata' ikutan hadir di sana. Percaya nggak percaya...tapi semua orang merasakan hal yang sama. Para malaikat kah? (katanya di setiap akad nikah banyak malaikat turun & ikut mendoa'kan) atau kah Datuk & Nenek serta Umak & Ubak juga ikut menyaksikan? Wallahualam.....lho kok malah jadi kayak cerita misteri gini...hihihi. Yang jelas Tedi berhasil mengucapkan ijab kabulnya sekali saja...Alhamdulillah.

Lona20beng20coup Pada siang harinya, resepsi dilaksanakan di Gedung Serbagunanya. Adat yang dipakai adalah adat Bengkulu (asal Bokap) tapi buat yang mengenali baju adat di atas ini mungkin akan sedikit heran, kok mirip baju Padang ya? Anda tidak salah...ini memang baju adat Padang...tapi sunting (hiasan kepalanya) asli Bengkulu. Kesimpulan??? anggaplah saja ini Pakaian adat bengkulu...hihihi Siapa yang punya ide begini? Dirikyu lah si empunya ide...

Kenapa sampai ada 'campur baur' seperti ini? soalnya baju adat Bengkulu yang tersedia kurang memenuhi standar selera kita, agak2 'seram'lah pokoknya (kapan2 gw posting deh foto baju aslinya, penganten cowoknya tuh pake kaos kaki bola selutut gitu....hiy!). Ceritanya pas kita rame2 fitting ke penyewaan baju penganten, wajah Lonna & Kiki (sepupu gw) langsung sedikit mengernyit pas disodorin baju Bengkulu..tapi keduanya no comment gitu (mungkin agak2 gak enak sama bokap yang 'setengah' memaksa adik gw pake baju bengkulu), tapi gw si 'jutek' langsung komentar "Eeuuww....kayak gini???" (padahal sebenarnya udah hapal bener  sama baju adat bengkulu, secara sepupu2 gw banyak yg married pake baju adat ini) Kontan semua orang melototin gw (termasuk ibu pemilik penyewaan baju). Si empunya baju pun menjawab "Bagus kok mbak kalo sudah di pake." Gw pun lantas nyengir, walaupun nyokap udah melotot abis ke arah gw seolah-olah siap menelan gw kapan saja (*hiperbola*)

Untuk sedikit mencairkan suasana, gw pun berjalan mengelilingi ruangan itu. Sampai mata gw terpaku pada sebuah manekin yang bajunya bagus & tampak wah banget..."Bu kalau itu baju adat Padang ya?" tanya gw pada si ibu pemilik baju.

"Iya mbak itu baju minang. Masih baru lho, baru 2 kali dipakai."

"Ooo...sayang ya bu baju Minang. Coba baju Bengkulu kayak gitu." sahut gw. Si Ibu cuma tersenyum (ibu itu baik & ramah banget lho)

Tiba2 gw punya ide,"Bu boleh nggak kalo adik saya pake baju itu, tapi suntingnya pake sunting Bengkulu."

"Mana boleh begitu" jawab BoNyok berbarengan.

"Tapi bagus lho baju ini," gw gak mau kalah.

"Sebetulnya bisa saja siy. Baju Bengkulu kan agak mirip sama baju Minang. Ya...sumatera kan rata2 mirip gitu baju adatnya." Ibu itu menengahi.

"Tuh kan! Coba dulu deh...!" seru gw ke Lonna & Tedi

Lonna pun nyoba, pas banget. Bagus! Sedangkan Tedi? kesempitan...hihihi ya iyalah perutnya segede gambreng. "Bisa dibesarin kok ukurannya," ujar si Ibu.

Akhirnya saat itu dicapai kesepakatan, dipakailah baju adat seperti tampak dalam foto di atas. (btw, foto 'resmi'nya belum jadi, foto2 di atas gw ambil dari website perias pengantinnya) Nanti kalo udah ada foto, gw bikin postingan yg lebih lengkap tentang acaranya.

Congratulation to Tedi & Lonna....

Thursday, 01 March 2007

INNALILLAHI WA INNA ILLAIHI ROJIUN

POSTING INI GW BUAT SEBAGAI LAPORAN PANDANGAN MATA BUAT Nanny (wish U were here Nan)

Hari senin (26 February 2007) pagi HP nyokap berbunyi, ada sms dari YANTI (perawat nenek gw) yang isinya:

"Bu, kateter umak (nenek gw) lepas. Kalo bisa, Ibu secepatnya ke sini."

Umak memang menggunakan kateter untuk mengeluarkan air seninya sejak tahun 1995. Dikarenakan saluran kemih beliau sudah tidak bisa berfungsi dikarenakan efek penyinaran yang pernah dijalaninya pada tahun 1990 karena mengidap kanker leher rahim stadium 3 b. Kanker umak memang sembuh total (amazingly..) dan tidak pernah kambuh lagi, tetapi kesembuhan itu harus dibayar mahal dengan rusaknya saluran kemih. Kata Prof. Joko (dokter urologinya)siy, karena efek sinar itu membuat saluran kemihnya menjadi mampet. Dan kalaupun mau 'dibuka' dengan jalan dioperasi, tetap saja nanti beliau tidak bisa 'mengontrol' air seni yang akan dikeluarkan alias bakalan keluar terus. Jadi kata Prof Joko lebih baik pasang kateter saja. Kateter tersebut terbuat dari silikon dan dimasukkan lewat perut (dibuat lubang kecil diperut umak buat memasukkan selangnya). Kateter tersebut diganti satu bulan sekali sedangkan urine bag nya bisa diganti kapan saja sesuai kebutuhan.

Nyokap pun langsung menuju rumah umak di Tanjung Barat begitu juga dengan Tante Ndang (Nanan's Mom). Mereka berdua yang akan mengantar umak ke rumah sakit. Di sana mereka melihat kateter tersebut memang lepas dan balon (pelampungnya) belah dua (hal yg gak biasa, mengingat kateternya masih baru dan selama hampir 12 tahun pake kateter hal itu tidak pernah terjadi)

Singkat cerita, Nyokap & Tante Ndang awalnya berniat memesan ambulance (karena umak memang sudah tidak bisa bangun lagi) di rumah sakit Kesdam (sudah sering sewa ambulance dari sana) tetapi ternyata hari itu ambulance tidak tersedia. Disaat mereka sedang gundah gulana (sama2 gak bisa nyetir mobil soalnya) lewatlah sebuah taxi di depan rumah, tanpa pikir panjang langsung  taxi tersebut di stop & umak pun di bawa menuju Rumah sakit. Di sana dijalanilah prosedur pergantian kateter seperti biasa yang sudah rutin dilakukan sebulan sekali. Walaupun hari itu umak agak sesak napas, tidak seperti biasa. Kondisi umak memang belakangan ini memang sudah sangat menurun. Bahkan sudah susah mengenali anak, mantu & cucu serta cicitnya. Nyokap yang setiap hari datang pun, selalu memperkenalkan diri dulu setiap berdekatan dengan umak, "Mak ini Ani datang," umak biasanya langsung menjawab, "Iyo Ni" sambil meneteskan air mata.

Setelah selesai ganti kateter, rombongan langsung pulang ke rumah. Anehnya baru saja memasuki rumah, ndilalah...kateter itu lepas lagi. Nyokap & Tante Ndang langsung lemes...itu biasanya sebuah pertanda dimana tubuh sudah mulai me-reject benda2 life support. Tetapi mereka berdua pantang menyerah, akhirnya balik lagi ke rumah sakit. Pasang lagi kateternya, tetapi kata dokter di sana umak tidak perlu di opname, sebaiknya dibawa pulang saja (mungkin dokternya sudah tahu). Akhirnya umak pun di bawa pulang ke rumah.

Setiba di rumah, sesak napasnya semakin menjadi-jadi. Segeralah Nyokap & Tante Ndang memutuskan untuk membimbing umak dengan kalimat2 talkin dan mempersiapkan diri bila saat 'yang terbaik' itu tiba. Walaupun begitu, tante Ndang tetap meminta Para (sepupu gw) buat membawa tabung oksigen ke rumah umak. Tetapi karena tabung oksigen milik Para sudah lama gak dipakai, jadinya harus dibetulin dulu jadi agak sedikit lama. Tetapi saat oksigennya sudah dipasang ke umak pun, sesak napasnya tidak kunjung berhenti. Akhirnya semua yang di sana (termasuk Mama Man (Oom gw) yang datang belakangan) memfokuskan diri untuk membimbing umak dan mengaji secara bergantian.

Where was I at that time? at the office, tersandera oleh kerjaan. Begitupula bokap. Padahal sejak siang perasaan bokap sudah nggak enak, dan ingin segera pulang buat ke rumah umak. Tetapi kita tidak bisa meninggalkan kerjaan, karena sedang ada sesuatu yang urgent. Adik gw Dini sedang ikut seminar di bandung, Tedi mendadak jatuh sakit sejak pagi & tidak pergi ke kantor, Kak Vina memang kerja dan tinggal di Bandung. Para sempat pergi ke kantor, tetapi akhirnya pulang cepat karena merasa gak enak. Omeng sedang ujian di PTIK, Ogie sedang les. Nanny ada jauh di Netherland sana....hiks. We never knew....

Selepas magrib, sesak napas umak bertambah parah. Nyokap, Tante Ndang, Mama Man dan Yanti terus membimbing dan mengaji. Gw sempat menelepon nyokap saat itu, dan nyokap menjawab dengan suara terisak diiringi 'back sound' suara Tante Ndang dan Umak yang sedang malafazkan "Alloh.." (suara umak yang gw dengar untuk terakhir kalinya.....walaupun nyaris tak terdengar karena sangat lemah...hiks) dan karena lidahnya sudah susah berucap, maka hanya lafaz Alloh lah yang dibimbingkan supaya bisa diucapkan. Mungkin sebetulnya sudah saatnya umak pergi, tetapi masih ada yang diberati-nya. Sampai akhirnya Oom gw berbisik "Umak kalo mau pergi, pergilah dengan tenang... kami ikhlas. Gak usah khawatir soal Wati (adik Nyokap & Mama man yang paling kecil, mereka cuma tiga saudara) dia akan kami jaga baik-baik," Setelah Mama Man selesai mengucapkan itu, napas umak terlihat lebih ringan (walaupun masih sesak). Mungkin memang itu yang masih mengganjal di hati umak. Secara cicik wati adalah mantan penderita shizophrenia yang walaupun sudah sembuh, tetap perlu dijaga karena kalau umak meninggal dia akan 'tinggal' sendirian.

Ba'da Isya, sesuai shalat nyokap giliran membimbing umak bertalkin. Mama man Shalat Isya dan Tante Ndang membaca surrah Yassin. Nyokap terus menyebut "Alloh....Alloh," diikuti oleh umak hingga suaranya tidak terdengar lagi tetapi bibirnya masih tampak ikut mengucap, "Alloh..." terus.....terus.....till the end. Umak pun akhirnya berpulang dalam pelukan nyokap. Tangis nyokap pun pecah saat bibir umak berhenti berucap. Mama man baru saja selesai shalat Isya jadi 'kelewatan' detik terakhir itu, langsung lemes saat mendengar tangis nyokap. Bergegas Mama Man memeriksa nadi Umak, sudah gak ada. Yah....akhirnya umak "our survivor" harus menepati janjinya pada Allah SWT. Hari itu beliau berpulang ke haribaan Allah SWT. Alhamdulillah ya Allah, di saat terakhir beliau masih bisa menyebut asmaMU. Insya Allah Khusnul Khatimah....Amien.

Pas menerima kabarnya gw diem...nyaris gak percaya. Tapi nggak nangis, cuma bengong aja. Sedih...belum sempat minta maaf hiks..hiks..hiks Tapi bengongnya cuma sebentar karena gw harus cepat bergerak, banyak nomer yang harus gw hubungi. Sanak saudara yang di Jakarta, Palembang, bandung dan Bengkulu. Tapi kayaknya gw gak bisa berkata-kata. Akhirnya gw sms aja satu2. Termasuk Lela biar dia bisa 'menyebarkan' berita ini ke sahabat2 gw yang lain secara beberapa dari mereka mengenal umak secara pribadi. Eh....Lela nelpon balik. Yang ada pas ngejawab telpon Lela tangis gw pun pecah. Karena gw-nya juga speecless, Lela pun akhirnya 'menghentikan' pembicaraan. Syukurlah....kalo gak mungkin gw udah nangis sesengukan.

Keesokan harinya umak dimakamkan di TPU Lemperes Depok. Di kavling makam keluarga yang baru saja dibeli dan baru beberapa minggu lalu proses jual-belinya selesai. Semua anak, mantu, cucu (minus Nanan...Hiks), cucu menantu, keponakan dan sanak saudara lainnya mengantar umak ke peristirahatannya yang terakhir. Adik2 gw Omeng, Tedi & Ogie (cucu2 lelakinya) yang membaringkan umak di liang lahat. Saat ikatan kain kafan dibuka, gw dengan sedih memandang wajah umak untuk terakhir kalinya. Tidak akan ada lagi Umak yang dulu suka mengajak kita jalan2, makan2, membelikan hadiah atau pun yang suka ngomel2 kalo tindakan kita kurang berkenan dihatinya. Saat Mama Man beradzan dengan suara terisak-isak tangis kami pun semua pecah. Semua pun seolah tersadar kembali bahwa "This is it..." kita akan berpisah dengan umak untuk selama-lamanya. Sampai nanti suatu saat Insya Allah kita bisa bertemu lagi, semoga kami semua dapat dipertemukan dalam syurga  Allah SWT ...Amien

Kami semua memang sedih dan menangis tetapi sebenarnya jauh-jauh hari di lubuk hati kami masing2 sudah pasrah dan merelakan kepergian umak. Karena sudah sangat tidak 'tahan' melihat penderitaan yang dialami umak setiap hari. Dari seorang yang lincah, kemudian terserang berbagai macam penyakit yang dikategorikan sebagai penyakit berat hingga akhirnya tidak bisa bangun lagi dari tempat tidurnya. Walaupun beliau (waktu sehat) lumayan galak, tetapi beliau adalah seorang nenek yang baik hati dan lumayan funky...hehehe We loved her so much (mungkin nanti gw akan bikin postingan sendiri tentang Almarhumah)

Dalam kesempatan ini gw juga memohon maaf atas kesalahan Almarhumah baik yang disengaja maupun tidak, kepada teman2 atau saudara yang mungkin mengenal umak secara pribadi. Mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

Good bye our beloved umak, till we meet again....

Note: Buat Nanan, jangan nangis ya kalo baca postingan saya ini. Foto2nya nanti saya Japri saja ke anda.

Friday, 12 January 2007

DITILANG??

Jum'at kemaren (5 Januari), Dini adik gw pulang ke Jakarta setelah menyelesaikan masa magangnya di KBRI Tokyo selama 3 bulan. Semua terutama BoNyok udah gak sabar menyambut kedatangannya. Bayangkan 2 kali lebaran (Idul Fitri & Idul Adha) gak ngumpul (kalo nyampe sekali lebaran lagi, sama deh sama rekor Bang Thoyib...3 kali lebaran...hihihi).

Panitia penjemputan pun diaturlah, tapi ternyata pas hari H ada sodara yg kawinan. Gagallah panitia penjemputan yg telah di atur sebelumnya. Akhirnya 'panitia' disusun ulang, dan gw yg 'ketiban' tugas sebagai "Driver of the day" Hiks..... tugas pertama, gw cabut dari kantor lebih awal yaitu jam 4 sore. Langsung dari Mampang menuju Bintaro buat menjemput BoNyok yang menghadiri akad nikah sodara gw (jadi gak usah nongol lagi di resepsinya). Dari sana langsung menuju bandara, karena pesawat Dini Landed jam 19.00

Jalanan lancar2 aja, pas masuk Sudirman malah sepi banget (karena baru selesai diaspal). Pas nyampe di Semanggi yang mau belok ke Gatsu (depan hotel Sultan) mobil kita di stop sama polisi (yg menutup sepatuh badan jalan dengan mobil patrolinya)....bingung juga kenapa, gw gak merasa salah, soalnya polisi2 yg di bunderan senayan cuek aja membiarkan kita melintas masuk ke sudirman, kan kalo emang dilarang berarti udah di blok dari ujung jalan. Atau mungkin karena 3 in 1, secara kaca mobil gw emang gelap banget. Dan sudah beberapa kali distop polisi yg kecele mau menilang setiap jam 3 in 1.

"Selamat sore Bu, mau ke mana?" kata si polisi

"Mau masuk tol" jawab gw (masih bingung)

"Mau ke mana?" ulangnya lagi

"Ya mau belok kiri, mau masuk tol" gw sudah sedikit naik darah. Usil banget sih ini Polisi. Masak gw mesti nerangin gw mau masuk tol guna menuju airport, kurang kerjaan amat! Karena kesal kaca jendela gw buka sampe pol (tadinya cuma dibuka setengah)

Hening sesaat, tapi gw lihat itu polisi sedikit kaget & tampaknya sedang berpikir keras. Sampe akhirnya dia bertanya lagi, "Mau ke mana?"

Gubraks...."Saya ini mau belok kiri Pak. Pasti saya mau ke arah sana." kata gw dengan betenya sambil menunjuk jalan di depan.

Hening lagi.....(3 menitan gitu deh) sampai akhirnya gw melihat mata polisi itu sedikit berbinar-binar, ia pun berkata "Ibu tahu peraturan memakai seat belt?"

"Iya, memangnya kenapa?" kata gw sedingin mungkin.

"Itu Ibu lupa memakai seat belt." katanya dengan suara kemenangan.

"What?? Ini saya pakai seat belt kok," kata gw dengan jengkelnya. (Sejak dari jaman dahulu kala, sebelum peraturan sabuk pengaman disahkan, gw selalu memakai seat bealt. Karena gw merasa 'naked' kalo nyetir gak masang seat belt....hihihi berlebihan ya??).

"Bukan Ibu, tapi Ibu itu," sambil menunjuk nyokap yg duduk di sebelah gw...gubraks...ternyata benar, nyokap gak masang seat belt. Padahal dosq gak pernah absen memakainya, bahkan sebelum nutup pintu mobil pasti udah bernyanyi dengan cerewetnya supaya kita masang sabuk pengaman.

"Sekarang minggir dulu Bu," kata si polisi.

Sambil minggirin mobil gw ngomel2, "mama gimana sih! Masak gak masang seat belt. Malu2in aja!"

"Ya abis gimana, tumben2an mama lupa," sahut nyokap gw dengan paniknya. (Nyokap gw emang gampang panik)

Setelah minggir polisi itu langsung meminta sim & STNK. Setelah memegang surat2 tersebut dia pun berkata, "Jadi maunya gimana nih?"

"Ya mau gimana Pak. Udah ditilang aja" kata gw dengan cueknya. (teringat saran & tips dari temen2 di milis FHUI'93, gak usah takut kalo ditilang polisi)

Nyokap langsung teriak, "Irmaaaa....ngapain minta ditilang???" (catatan : nyokap tidak pernah memanggil gw dengan sebutan nama selalu memanggil gw Adek, kecuali kalau dosq sedang marah besar)

"Biarin aja. Abis mau gimana lagi. Mama juga iseng sih, kenapa sampe lupa masang seatbelt!" sahut gw.

"Astagfirullah anak ini...." teriak Nyokap

Si pak polisi cuma memandangi adegan ini, tapi akhirnya dia mengembalikan sim & stnk seraya berkata, "ya sudah, saya juga gak mau terima uangnya"

Gw menoleh (sambil mikir, siapa juga yg mau ngasih dia uang). "Jadi gimana Pak? jadi ditilang?"

Polisinya langsung bete, "Jadi kamu nantangin mau ditilang. Kalo emang mau ditilang ya saya tilang nih!" Katanya sambil ngambil buku tilang.

Nyokap langsung tambah nyap-nyap. Akhirnya Bokap pun nimbrung, "Kan surat2nya udah dibalikin, berarti boleh jalan!"

"Emang iya Pak?" kata gw ke Polisi.

"Sebetulnya iya, tapi kalo kamu nantangin ya sudah saya tilang aja sekalian." katanya

"Ya udah deh pak, kalo gitu saya jalan aja. Terima Kasih ya Pak!" kata gw. Langsung gw cabut dari sana.

Sambil jalan bokap gw ngomong, "Tadi itu kayaknya dia mau nilang 3 in 1. Soalnya pas ngeliat papa dia kaget. Tapi karena udah kepalang, langsung deh nyari2 kesalahan, pas pula mama nggak make seatbelt." 

Iya juga ya....walaupun emang 'terbukti' melanggar tapi sebetulnya kalo emang cuma ngeliat dari luar, nggak mungkin si pak polisi tahu nyokap gak make seatbelt, secara kaca mobil gw gelap banget.

Sutralah.....yang pasti jam 8 kurang kami sudah ceria semua...menyambut kedatangan adik gw di pintu kedatangan terminal F Bandara Soekarno-Hatta. Untung pak polisinya mau 'melepaskan' gw, kalo enggak, males juga kan dateng ke persidangan....hehehe

Monday, 25 December 2006

PERAYAAN NATIONAL DAY

Tanggal 23 Desember adalah hari libur “National Day”  bagi rakyat Jepang. Karena pada hari tersebut Kaisar Jepang saat ini, Akihito berulang tahun. Bukannya sok kejepang-jepangan ya kalau gw kali ini turut merayakan hari tersebut. Tetapi karena kebetulan mendapat undangan buat menghadiri perayaan hari nasional yang diadakan oleh masyarakat Jepang di Jakarta, yang berlangsung di

Nikko

hotel. Kebetulan pula walaupun bertepatan dengan long week end keluarga gw gak pergi ke luar

kota

karena banyak ‘acara’ di

Jakarta

(baca:Menghadiri kawinan, pengajian dll) maka undangan perayaan tersebut dapat kami hadiri (Gw plus Bonyok). Btw, undangannya sendiri kami peroleh dari Mr.Suzuki my Japanese Boss.

Acaranya berlangsung sore hari. Kami tiba di

Nikko

hotel jam 5.30 sore. Sebelum masuk ‘check in’ dulu sama panitia penerima tamu. Dan langsung disambut juga sama Mr. Suzuki yang (ternyata) adalah salah satu panitia acara tersebut (pantesan tumben2an kok ‘setengah’ memaksa buat datang ke acara itu hehehe…).Padahal keluarga gw siy sebetulnya kalo ada undangan makan juga tak pernah menolak…hihihi. Panitianya  langsung ngajak gw ngomong bahasa Jepang (mungkin dikira orang Jepang) tapi karena gw langsung nyengir kuda, mereka lantas tahu bahwa dirikyu tak bisa berbahasa jepun dan akhirnya ngajak ngomong pake bahasa

Indonesia

(dengan lancar pula)

231206_1749_1 Salah satu acara penting saat itu adalah membuat kue mochi. Yang ditumbuk pake wooden mortar yang langsung diimpor dari Jepang. Bukannya sok tahu, tapi antara dirikyu dan wooden mortar (sebangsa lesunglah kalo di kampung) yang dipakai untuk acara itu memang ada ‘hubungan’ khusus yg tak terlupakan….hihihi

Alkisah…setahun yang lalu (pada bulan November 2005) wooden mortar tersebut dikirim dari

Tokyo

ke

Jakarta

dengan ‘mencatut’ nama gw sebagai penerima. Adapun benda tersebut dikirim sebagai ‘hadiah’ buat dirikyu (dengan harapan dari si penerima sesungguhnya, agar tak perlu membayar bea masuk). Walaupun gw saat itu sedikit bete, tapi sudahlah….toh yang penting si pengirim & si penerima memakai jasa kantor gw buat ngurusin pengirimannya. Masalah pun akhirnya timbul setelah barangnya tiba dan dokumen2nya diperiksa oleh bea cukai. Pihak Tokyo mencantumkan harga sesungguhnya dari si wooden mortar yang memang cukup mahal. Padahal untuk barang hadiah yang bebas bea masuk maksimal harganya adalah USD50. Walhasil bea masuk harus dibayar…sekitar 3 atau 5 jt-an (gw agak2 lupa). Betenya lagi, si penerima ngotot gak mau bayar, dengan alasan itu

kan

hadiah….Wuuuhhhh…sebel!!! Akhirnya gw dan Indri (Import Dept. di kantor) pergi ke Tanjung Priok buat menyelesaikan permasalahan ini. Setelah pergi ke

sana

ke mari, naik turun tangga, belum lagi panasnya udara Tanjung Priok yang benar2 menyiksa (apalagi saat itu Indri tengah hamil muda, bikin gw rada2 khawatir karena kita bolak balik naik tangga di kantor2 bea cukai). Menjelang sore, kita pun balik ke Mampang dengan hasil nihil…..intinya tetap harus bayar bea masuk!!!

Akhirnya, si penerima pun menyerah dan mau membayar bea masuknya….Ffiuuhh….dan sabtu kemaren itulah untuk pertamakalinya gw ‘bertemu’ dengan sang wooden mortar hehehe…sayang Indri gak ikutan buat ngeliat ulekan yang nyusahin kita itu!!

Pada acara itu semua orang dikasih kesempatan buat ikutan menumbuk nasi ketan sebagai bahan dasar pembuat kue mochi, gw tentu saja tak melewatkan kesempatan itu….ternyata berat euy!!! Padahal kalo ngeliat yang lain kayaknya enteng banget. Sayang pas giliran gw numbuk nggak sempet difoto, sebagai gantinya….saya persembahkan foto Mr.Suzuki yang lagi numbuk dengan semangat bushido hehehe…(btw, dosq nggak baca blog ini

kan

?)

231206_1817_1 231206_1818_1

Sebelum acara ditutup, diadakan pengundian door prize. Hebatnya, dari 3 kupon yang gw pegang…semuanya menang…hahaha…..sampe malu hati!! Kayaknya gw memang sering menang door prize (lucky me), tapi kenapa giliran undian2 berhadiah gede yang diselengarain sama bank2 itu gw tak pernah menang????Hiks…..

Wednesday, 30 August 2006

New Babby Born

Hari Minggu kemaren (27 Agustus) salah seorang saudara sepupu gw (Yanti)melahirkan....(akhirnya). Setelah menunggu sekian lama (marriednya udah 4,5 tahun lalu), akhirnya kebahagiaan yang ditunggu-tunggu itu tiba juga....Alhamdulillah. Menurut perkiraan dokter, bayinya bakal lahir sekitar tanggal 22 Agustus. So, pas long week end (17-21) keinginan Yanti untuk ikutan liburan ke Bandung bareng keluarga gw ditolak mentah2 sama kita semua, ya iyalah kalo sampe melahirkan di Bandung kan repot banget tuh. Tahu sendiri kan tol Cipularang jalanannya kurang mulus. Entar kalo terguncang-guncang di jalan, dakyu tidak sanggup deh menanggung resiko (secara gw yang nyetir gitu lho).

Sepulang dari Bandung sampai akhirnya sudah lewat dari tanggal 22, ternyata belum ada berita kalo si bayi sudah lahir. Betah juga tuh babby dalam perut ibunya. Kata 'orang-orang tua' kalo sudah mendekati hari H, si ibu harus banyak jalan. Untuk menebus 'rasa bersalah' karena sudah menolak keinginan Yanti untuk ikut liburan ke Bandung, dakyu akhirnya mengajak dia buat jalan2. Hari kamis, pulang kantor gw ajakin dia makan ikan bakar di Pasar Ikan deket UI bareng nyokap gw, tante gw (nyokapnya Yanti) & Farhan. Kita makan sambil ngobrol sampe malam banget. Selama makan, dia nggak berhenti-henti meringis. Katanya kontraksi. Gw dengan semangat langsung mengajak dia ke rumah sakit, yang langsung ditolak sama semua orang. Katanya itu siy emang biasa. Mungkin bayinya kaget dikasih ikan sama cumi bakar hehehe......Akhirnya kita pun pulang ke rumah masing-masing. Dan terbukti memang ternyata itu cuma kontraksi biasa doang.

Keesokan malamnya kita jalan2 lagi, kali ini bareng Andres (the father) dan Nico keponakannya. Kita muter2 di carre four ITC. Tapi karena barang yang dicari (mini disc buat handy cam) nggak cocok harga, akhirnya kita pindah muter2 di Margo City. Sampe akhirnya kita pulang, tidak juga ada tanda2 kalo sang jabang bayi mau lahir. Padahal dokter sudah memberi limit, kalo sabtu belum juga lahir bakalan di induksi. Hiy....serem...katanya kalo diinduksi itu sakitnya dobel. Makanya gw mewanti-wanti si babby  ngelus2 perut Yanti sambil bilang "Cepetan nak keluarnya, kasihan tuh mama kalo sampe di induksi." tentu saja sambil tak lupa menambahkan  "Udah gak sabar kan mau ketemu sama Tante Irma yang cantik?" hehehe.....(*narsis mode on*)

Hari Sabtu gw udah capek deh, mending tidur aja. Sambil nunggu telpon, kalo2 si bayi udah lahir. Tenyata hingga malam harinya tak ada kabar apa pun (berarti mungkin belum jadi diinduksi). Sampai keesokan paginya (jam 10) telepon rumah berdering, tante gw ngabarin kalo Yanti ada di RS dan sudah memasuki pembukaan 2. Masih lama dong, nyante aja ah... Jam 4 telepon bunyi lagi dan ngasih tahu kalo udah pembukaan 5. Baru deh kita bergerak, tapi ditengah jalan ternyata gw sekeluarga kelaparan. Akhirnya 'terpaksa' deh mampir dulu di citos buat cari makanan. Dan mumpung lagi ada megafoodvaganza di sana (dimana ada diskon 25%-50% buat KK bank mega), gw dengan semangat '45 mencari restoran yang ngasih diskon terbesar (emang ogah rugi sih)....hehehe Sampai akhirnya tindakan gw membuat Bokap & Nyokap gw sewot karena capek diajak muter2 tanpa hasil. Akhirnya kita terdampar di sebuah restoran masakan Thailand.

Walhasil kita baru nyampe di RS Cinere jam 07.45 pm dan ternyata si babby boy sudah lahir dengan sehat & selamat tanpa harus diinduksi....hehehe maap! Bayinya lahir sekitar jam 07.00 pm jadi sebetulnya kita cuma telat dikit kok (pembelaan diri). Waktu kita tiba ternyata di sana sudah rame dipenuhi oleh sanak keluarga yang ngerubung di depan ruang bayi. Semua orang tampak riang gembira sambil memandangi si babby boy (yg sampe hari ini belum punya nama) yang ada di dalam inkubator. So...so....chubby !!! Pipinya benar2 montok sampe nggak sabar pengen nyubit (dasar! belum apa2 gw udah memikirkan tindakan 'kekerasan' hehehe...) Tante2 gw banyak yang berkata "selamat datang sayang"....sementara gw memandangi si babby yang ajaibnya udah bisa melek dan memandang ke arah kita sambil berkata seolah-olah mendubbing si bayi..."Wah....aku terjebak bersama orang2 ini ya?" kontan saja tante-tante gw langsung pada mendelik....hehehe kidding....just kidding! Walaupun akhirnya mereka ketawa juga. Terus seperti biasa (biasanya sih terjadi setiap acara kawinan) ada aja yang nyeletuk, "Irma kapan nih?" hehehe.....dasar! Mungkin mereka udah bosen nyuruh gw buruan married, jadi sekarang berubah haluan nyuruh gw buruan punya anak. Memang segerombolan tante-tante yang pantang menyerah! Btw, emang boleh? hahaha.....

Keesokan harinya gw datang lagi ke RS, kali ini dengan membawa buku nama2 bayi yang gw janjikan. Tadinya mau minjem buku2nya Para sepupu gw, tapi ternyata dia juga minjem. Jadi pas gw ke rumahnya bukunya udah dibalikin ke Omeng (Adiknya Para). Dan katanya kalo gw mau minjem, harap ambil di Pejambon rumahnya mertuanya Omeng. Buset...jauh amat yak! Haree gini kan sedang musim macet busway. So...mendingan gw ke Gramedia aja deh...lebih ekonomis...hehehe. Nyampe di RS udah jam 09.00 pm tapi dengan cueknya gw nyelonong aja langsung masuk ke kamar pasien. Emang RSnya oke banget, nggak rese sama pengunjung. Pengunjung juga udah sepi, tinggal ada Aldi&Amel doang.

Setelah Aldi&Amel pulang, gw ditawarin sama Andres&Yanti "mau lihat video kelahirannya gak?". Wah emangnya boleh? Walaupun awalnya agak2 serem, tapi gw mau juga. Ternyata lumayan horor, walapun tidak sehoror yang gw bayangkan. Karena sudut pengambilan gambarnya adalah dari samping...hehehe karena si kameramen (Andres kagak berani nge-shoot dari depan). Yang bikin agak2 bete, pas adegan klimaks....eh...tuh kamera malah nge-shoot tembok. dasar! Katanya sih itu disebabkan sang kameramen nyaris pingsan....wakakakakkk

Semoga hari ini sang babby boy sudah mendapat nama, dan semoga juga bisa tumbuh jadi anak yang shaleh....Amien....

Sunday, 28 August 2005

My Sister Graduation

Hari Sabtu (27 Agustus) gue & keluarga menghadiri wisuda adik bontot gue Dini. Akhirnya lulus juga setelah berkutat sekian bulan dengan skripsi yang 'memuakkan' hehehe....Walaupun in the end adik gue sedikit kecewa, karena walaupun nilai IPKnya cukup buat predikat Cum Laude (sedangkan nilai gue jauuuuh banget dari Cum Laude), dia nggak kebagian predikat itu karena pernah cuti 2 semester buat pertukaran mahasiswa ke Jepang. Karena salah satu persyaratan Cum Laude adalah Study tepat waktu alias 8 semester, dan cuti ternyata diitung juga sebagai masa study.

Yang bikin gw agak surprise, ternyata di fakultas hukumku tercinta ada 3 orang yang lulus Cum Laude, dengan IPK tertinggi 3,78.  Wah....beda banget ya sama jaman gue dulu. Sampe dulu beredar 'isu' kalo ada anak '93 yang lulus Cum Laude bakal dibikinin patung dirinya dan dipajang di depan Fakultas buat nemenin patung  Pak Djokosoetono hehehe....

Acara wisudanya sendiri dimulai dengan nyanyian anak2 baru. Pas Intro lagu Kr Kemayoran dimainkan, mendadak gue jadi kangen banget sama lagu itu. Inget dulu pas latihan nyanyi sama Mas Dibyo, saat kita anak2 baru udah lemes dan ngantuk pasti deh lagu itu dinyanyiin biar kita semangat. Dan anehnya, lagu itu selalu berhasil membuat kita semangat lagi. Jadi pengen nyanyi lagi.....

By the way.....Mas Dibyo kemarin dapat penghargaan dari MURI, sebagai pelatih & pemimpin paduan suara dengan peserta terbanyak. Walaupun emang udah tradisi di UI kalo anak baru wajib nyanyi saat ada wisuda, tapi katanya siy peserta kali ini yang terbanyak.