PAPA's FUNERAL
HARI SELASA, 15 JULI 2008 PUKUL 21.10 WIB TELAH BERPULANG KE RAHMATULLAH....PAPA KAMI TERSAYANG....H. AHMAD SUARDI SAUL....DI BANDUNG....
Jam 1 malam dengan dilepas para tetangga, jenazah papa dibawah dari rumah kami di Bandung ke rumah Depok. Karena memang papa akan dimakamkan di Depok, soalnya jauh2 hari papa & mama sudah menyiapkan sepetak kavling di dekat tanah wakaf milik komplek di Depok. Di daerah lemperes (KSU - jalan Pemda yg menuju Bogor)
Mama & beberapa sepupu gw menemani papa di ambulance. Perjalanan lancar, walaupun jam segitu Cipularang penuh dengan trailer & truk. Karena memakai jasa Vorijder (eh bener gak spellingnya?) dari PM.
Pukul 3.30 rombongan tiba di Depok. Gw langsung lemes tak bertenaga, aahhh.....ini bukan mimpi...hikz... menyambut kedatangan rombongan. Kami baringkan papa ditengah rumah. Gw buka wajahnya, tersenyum....damai sekali. Mukanya bersih seperti bercahaya....padahal belum dimandikan. Kata mama, mata & mulut papa menutup sendiri. Sesaat setelah ucapan terakhirnya..."Allah...." Allhamdulillah.......(semua tamu yg datang melayat papa dan menatap wajahnya pun selalu berkata, "Subhanallah......Bapak tersenyum")
Tak lama setelah tibanya rombongan, para tetua langsung berembuk, kapan mau dimakamkan. Banyak yg usul sebelum Dzuhur....dan itu langsung membuat gw mendelik. Dengan terisak-isak, gw menjelaskan bahwa Dini on the way pulang dan minta ditunggu. Beberapa orang langsung bilang "Nggak boleh begitu...bla..bla...."
Dan gw pun bertambah bete. Dengan dalih bahwa kedatangan Dini masih memungkinkan untuk ditunggu, karena masih dibawah 24 jam. Plus cerita bahwa Dini memohon dengan sangat bahwa dia minta ditunggu, akhirnya mama, Tedi & K'Vina yg tadinya pasrah dengan usul2 mereka itu mau mengikuti permohonan gw.
"Papa pasti mau ketemu Dini, lagian kalau memang mau dimakamkan tanpa Dini. Dini harus berikrar bahwa dia ikhlas." Tambah gw 'sedikit' jutek. Gerombolan pemberi usul pun langsung terdiam. Akhirnya mereka pun menyiapkan plan B, yaitu pemakaman di malam hari. Mengkoordinir pemasangan lampu2 yg bakal diperlukan.
Kenapa gw begitu ngotot? Karena gw tahu pasti papa juga menginginkan demikian. Suatu hari on the way ke kantor papa pernah bilang "Mudah2an Dini gak jadi kuliah di Jepang, lama sekali (3 tahun). Mudah2an dia diterima di australi, enak deket. Bisa gampang pulang, kalo papa kenapa - kenapa" Saat itu perasaan gw dah gak enak. Percakapan itu berlangsung tahun lalu, sebelum papa jatuh sakit. Percakapan ini gw simpan sendiri, gak pernah gw ceritakan ke yang lain.
Jam 7 pagi, petugas yg akan memandikan papa sudah tiba. Dan langsung pengen beraksi. "Nantiii dulu....." teriak gw. Gw khawatir kalo buru2 dimandiin, nanti pasti ada desakan buat buru2 dimakamin. Memberitahu papa meninggal ke Dini aja gw gak sanggup. Apalagi melihat wajahnya yang bakalan sedih, kecewa bahkan (mungkin) shock kalo pas dia tiba di rumah dan papa sudah dimakamkan. Dengan berdalih bahwa sepupu2 gw yg cowok belum pada datang (padahal sudah ada beberapa orang yang datang), gw bilang tunggu sebentar lagi. Mama pun setuju.
Jam 11 akhirnya papa pun dimandikan, oleh 2 orang petugas plus kami bertiga (Gw, K'Vina & Tedi), sepupu gw Dang Aldi, Hendri, Andi dan Ogie. Sepupu2 gw yg cewek menangis karena dilarang memandikan. Tapi nanti sebelum wudhu, diperbolehkan memberi 'siraman' terakhir. Mereka pun duduk menunggu di ruang tengah, menemani mama yg tidak sanggup menyaksikan dan duduk menangis membelakangi kami. Walaupun akhirnya mama juga ikut menyiram di saat2 terakhir.....hikz 
Sekitar jam 2 lewat Dini menelpon, dia sudah mendarat di Denpasar....Alhamdulillah. Sekarang tinggal deg-degan menanti penerbangan ke Jakarta. Sementara saudara2 yg dari luar kota dan naik pesawat, semuanya mengalami delayed. Yg dari Bengkulu delayed 2 jam, yg dari Kalimantan delayed 3 jam. Tapi semua akhirnya tetap sempat ketemu papa. Karena kami menunggu Dini. Tapi yang dari Palembang malah sama sekali gak bisa berangkat. Karena gak dapat tiket. Seharian mereka nongkrong di airport menunggu ada yg membatalkan keberangkatannya. Tapi nihil. Salah satu sepupu papa akhirnya menyerah...dan berangkat dengan bus (dengan resiko gak ketemu lagi sama papa).
Sambil menunggu kedatangan Dini, gw selalu duduk di samping papa. Membuka wajah papa jika ada tamu, membaca yassin dan kadang2 memegang tangannya (yg sudah dibungkus kafan) seraya berbisik "Sabar ya Pa.....maaf bukannya ngelama-lamain...tapi Dini pasti pengen banget ketemu papa. Dan papa juga mau kan ketemu Dini" Papa memang tidak bisa lagi menjawab, tapi feeling gw beliau setuju. Beberapa sahabat2 gw yg datang menganjurkan buat tidur dulu barang sebentar (karena memegang kening gw yg katanya agak panas), gw tolak dengan halus. Kapan lagi bisa berdekatan dengan papa? K'vina juga melakukan hal yg sama, menemani papa. Sementara Tedi bolak balik menyambut tamu di depan. Karena dia yang lebih banyak mengenal teman2 papa.
Jam 19.30 Dini tiba, wajahnya pucat, sedih tapi tampak sedikit lega. Lega akhirnya bisa tiba di rumah tepat waktu dan masih bisa bertemu papa. Dia pun menangis, memeluk papa dan berkata "Maafin Dini Pa....Dini lama datangnya...maafin Dini pa...."
"Dini gak salah nak...Dini gak salah. Papa pasti senang Dini pulang" kata mama
Kami pun mencium papa buat terakhir kalinya sebelum kafannya ditutup. Dan setelah itu papa dibawa ke mesjid untuk dishalatkan dan kemudian dibawa ke pemakaman.
Di pemakaman sudah terang benderang (sebelumnya gw udah ngebayangin pake petromak) ternyata penerangannya menggunakan lampu neon yg disiapkan oleh Oom Karnadi salah seorang mantan pegawai papa....Alhamdulillah. Upacara pemakaman berlangsung lancar.....Tedi, Rommel, Dang Aldi & Olga yang mengantarkan papa ke liang lahat. Dan Tedi pun ber-adzan dengan suara terbata, melepas kepergian papa.
SELAMAT JALAN PAPA SAYANG......SAMPAI BERJUMPA LAGI






Recent Comments